DomaiNesia

Minggu, 18 Juli 2021

Ma'ruf Cahyono Sebut Tugas Dpd Dapat Lebih Besar Sejahterakan Rakyat

Maruf Cahyono
Foto: MPR

Jakarta - Sekretaris Jenderal MPR Ma'ruf Cahyono menyebut DPD selaku forum negara yakni salah satu komponen kekuatan nasional dalam metode ketatanegaraan Indonesia. Dengan eksistensinya yang sungguh strategis, DPD dibutuhkan bisa memainkan kiprahnya secara optimal dalam merealisasikan tujuan nasional sebagaimana diamanatkan oleh para pendiri negara dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945.

"Untuk memainkan tugas yang lebih besar sesuai dengan hakikat keberadaannya, maka DPD mesti keluar dari perangkap normatif yuridis konstitusional yang telah secara limitatif dimandatkan oleh konstitusi. Karena menyaksikan sejarah pembentukannya, DPD lahir untuk tujuan yang lebih besar dalam rangka memperkokoh kedaulatan NKRI untuk merealisasikan kemakmuran penduduk (Respublika)," ungkapnya dalam keterangannya, Senin (12/7/2021).

Dalam webinar dengan tema 'Optimalisasi Fungsi Legislasi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Dalam Rangka Penguatan Demokrasi di Indonesia' pada Sabtu (10/7), Ma'ruf menyodorkan makalah dengan judul 'DPD dalam Perspektif Ideologi dan Konstitusi'.

Ma'ruf menerangkan original intens lahirnya DPD dalam metode Ketatanegaraan Indonesia. Sebagai salah satu perangkat forum negara, kelahiran DPD dibutuhkan mempunyai eksistensi dalam menemani proses berbangsa dan bernegara Indonesia, merekatkan keberagaman memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai NKRI.

Menurut Ma'ruf, selaku representasi daerah, eksistensi DPD dibutuhkan sanggup menjadi jembatan aspirasi dan agregasi kepentingan tempat dalam pengambilan kebijakan nasional yang berorientasi tumbuhnya demokratisasi dan kemakmuran penduduk daerah. Harapan kemunculan DPD bisa terwujud kalau DPD mengoptimalkan kiprahnya dalam mensinergikan kebijakan pembangunan tempat dan nasional secara komprehensif, integratif dan berkelanjutan.

"Oleh alasannya yakni itu, membicarakan optimalisasi tugas DPD mesti dengan kacamata yang lebih luas, dengan menyaksikan latar belakang pembentukannya baik secara historis, filosofis, maupun sosiologis, sehingga sanggup menyaksikan tugas dan fungsinya secara komprehensif dan holistik," ujarnya.

"Karena itu, mengatakan wacana optimalisasi tugas DPD mesti dikembalikan terhadap kontekstualitas yang melatari pembentukannya yakni merealisasikan cita negara persatuan, cita negara demokrasi, dan cita negara hukum," imbuh Ketua Keluarga Alumni Fakultas Hukum Unsoed ini.

Ma'ruf menyampaikan pada tataran supra struktur politik negara, DPD juga mempunyai tugas penting yakni selaku kekuatan penyeimbang dalam pelaksanaan checks and balances antar lembaga-lembaga negara. Sekarang tidak ada lagi satu forum yang mempunyai kekuasaan yang sungguh powerful, semua forum negara mempunyai kedudukan yang setara, yang membedakan yakni fungsi-fungsinya yang suprematif atas mandat konstitusi.

"Checks and balances pasti tidak dalam konteks intervensi terlebih mencampuri kewenangan antar forum negara, tapi dalam kontek membangun sinergi, kerja sama, kerja bergotong royong dalam satu visi merealisasikan tujuan nasional," jelasnya.

Ma'ruf menguraikan dalam konteks demokratisasi misalnya, DPD hadir selaku instrumen yang mewakili daerah, mewakili ruang hidup (wilayah), sehingga secara substansial prinsip dasar demokrasi Abraham Lincoln (dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat) sanggup terwujud dalam penyelenggaraan pemerintahan negara Indonesia.

Prinsip semua rakyat mesti terwakili yakni esensi demokrasi substansial ala Indonesia yakni sila ke empat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

"Dalam konteks demokrasi Indonesia, semua terwakili, tidak ada kepentingan rakyat yang ditinggalkan sebagaimana dalam metode MPR dulu, ada delegasi tempat dan delegasi golongan. Sekarang ada Dewan Perwakilan Daerah, jadi kesempatannya semua terwakili, semua golongan dan golongan, secara filosofis mesti terwakili lewat reperentasi DPD," ujarnya.

Dengan fungsi representasi yang sungguh luas, lanjut Ma'ruf, eksistensi DPD juga mesti bisa berperan dalam pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah. Desentralisasi dan otonomi tempat yakni faktor yang sungguh penting alasannya yakni terkait dengan mempertahankan persatuan bangsa dan kesatuan negara.

"Untuk itu lewat azas desentralisasi dan otonomi daerah, DPD selaku forum legislasi, mesti berperan dalam mensinergikan kebijakan pembangunan tempat dan pusat," terangnya.

Selain itu, Ma'ruf menyertakan DPD mempunyai tugas dalam merekat keberagaman dan kohesi sosial masyarakat. Menurutnya, kita bangsa yang beraneka ragam dan syarat perbedaan. Sifat perbedaan itu yakni eksklusif, sehingga kalau tidak diatur dengan baik, maka eksklusifitas yang tajam akan menjelma pertentangan sosial dan ketidakpercayaan masyarakat. Ini mempunyai potensi mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

"Kalau cuma menyaksikan kewenangan DPD yang ada dalam Pasal 22D Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945, tentu akan terbatas pada mandat imperatif dan distribusi kekuasaan. Oleh alasannya yakni itu DPD mesti dilihat secara kontekstual dalam kerangka metode bernegara. Bukankah para pendiri bangsa telah mengingatkan bahwa yang lebih penting yakni semangat para penyelenggara negara," ujarnya.

"Terkait wilayah ruang hidup, tempat kepulauan, perbatasan, sumberdaya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. Semua itu penting. Ini bangsa besar, tidak dapat semua dilaksanakan sendiri, ada relasi kelembagaan yang mesti dioptimalkan, pasti mesti dalam koridor konstitusi. Itu tugas para senator menurut saya," sambungnya.

Pada bab akhir, Ma'ruf menampilkan catatan penegasan terkait implementasi tugas DPD dalam politik aturan kebijakan pembangunan tempat yang mesti sinergi dengan kebijakan pembangunan nasional, upaya DPD merekatkan keberagamaan terkait paham radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.

Juga terhadap efektivitas pelaksanaan desentralisasi dan otonomi tempat dalam rangka reorientasi dan sinergi kebijakan tempat dan nasional untuk menjawab tantangan global. Reorientasi dan pembiasaan mutlak dilakukan kalau DPD ingin mengoptimalkan perannya.

Selain Ma'ruf Cahyono, webinar yang diselenggarakan Advokat Alumni Unsoed (AAU) Purwokerto yang diprakarsai oleh Herry Suherman selaku Ketua AAU ini mendatangkan narasumber Dr. Abdul Kholik (Wakil Ketua Komite I DPD RI), Prof Dr. Muhamad Fauzan (Guru Besar Hukum Tata Negara). Bertindak selaku moderator yakni Sugeng Riyadi (Dekan Fakultas Sosial, Ekonomi dan Humaniora, UNU Purwokerto).

Jumat, 16 Juli 2021

Mahfud Md Jawab Sentilan 'Dulu Ri Kirim Oksigen Ke India, Sekarang Impor'

Jakarta - Menko Polhukam Mahfud Md menjawab kritik wacana isu pemberian bantuan oksigen dari pemerintah ke India sementara waktu lalu. Mahfud menyampaikan pemberian bantuan di kelompok dunia internasional sudah biasa.

"Terkait dengan isu pemberian bantuan oksigen dari Indonesia ke India pada bulan Mei yang lalu, saya kira kalau kita membaca pemberitaan membaca sejarah wacana relasi antarnegara itu tidak menjadi masalah. Karena Indonesia pun sering memperoleh bantuan. Di dalam dunia internasional, itu biasa kalau ada sebuah negara itu kena musibah, ya kita bantu," ujar Mahfud dalam keterangan pers yang disiarkan di YouTube Kemenko Polhukam, Jumat (9/7/2021).

Mahfud mengungkapkan di saat itu India sedang mengalami lonjakan problem COVID-19, sementara Indonesia pada di saat mengantarkan bantuan tidak sedang terjadi lonjakan kasus. Mahfud menyampaikan di kelompok internasional biasa saja terjadi saling bantu di saat ada negara yang mengalami musibah.

"Pada waktu itu kan bantunya permulaan Mei di saat tingkat kesembuhan di wilayah kita itu nyaris senantiasa lebih tinggi dari terinfeksi sehingga pada waktu itu oksigen masih banyak, kemudian India sudah parah, Indonesia membantu," ujarnya.

Mahfud mencontohkan pemberian bantuan di kelompok dunia internasional sejatinya wajar, alasannya Indonesia juga pernah menemukan bantuan dari aneka macam negara di saat mengalami petaka tsunami di Aceh, gempa di Palu Sulawesi Tengah dan letusan Gunung Merapi di Yogyakarta. Sebaliknya, Indonesia juga pernah mengantarkan bantuan ke Jepang di saat terjadi tsunami dan mengantarkan bantuan ke Australia di saat terjadi kebakaran.

"Itu biasa saja, Indonesia juga pernah menolong Jepang negara kaya di saat ada tsunami kemarin Indonesia juga menolong Australia kemarin pada di saat terjadi kebakaran, itu sudah biasa dalam relasi internasional. Negara-negara itu punya program-program kemanusiaan, bantuan, obat, makanan itu sudah biasa," ungkapnya.

Lebih lanjut Indonesia juga sudah menemukan aneka macam bantuan dari internasional dalam pandemi COVID-19 ini. Ketika terjadi lonjakan problem di Indonesia seumpama di saat ini banyak negara juga sudah menampilkan bantuan dari mulai oksigen sampai pemberian vaksin.

"Jangan cuma menjumlah kita sudah mengeluarkan yang kita butuh, kita juga dibantu, dan pada di saat kita menolong itu dahulu Indonesia itu tidak sedang mengalami eksponensial seumpama kini ini. Sekarang pada di saat kita mengalami eksponensial beberapa negara sudah menampilkan bantuan, itu biasa dalam relasi internasional dimana setiap negara itu punya kegiatan kemanusiaan, kini itu sudah ada misalnya rencana-rencana bantuan yang masuk ke kita, tabung oksigen," tutur Mahfud.

Sebelumnya, pemerintah mengaku sudah merencanakan skenario terburuk jikalau komplemen problem harian COVID-19 meraih 40 ribu. Salah satu skenarionya merupakan dengan meminta bantuan pihak lain.

PKS menyinari tentang ketersediaan oksigen, yang masuk skenario terburuk pemerintah. PKS meminta pemerintah tidak cepat membuka keran impor oksigen.

"Kemarin sudah anggun kita mengirim gas oksigen ke India. Masak kini kita ingin impor. Padahal bibir kita belum kering benar membahas duduk kendala itu," kata anggota dewan perwakilan rakyat RI dari Fraksi PKS Mulyanto terhadap wartawan, Selasa (6/7/2021).

Kamis, 15 Juli 2021

Jokowi Hubungi Luhut 3 Kali Sehari Tanya Pertumbuhan Ppkm Darurat

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan
Luhut Binsar Pandjaitan (Foto: KEMENKO MARVES)

Jakarta - Sudah lebih dari seminggu Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, diberi kiprah oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadi koordinator PPKM darurat di Jawa dan Bali. Apresiasi pun disampaikan Luhut terhadap semua pihak yang sudah memamerkan dukungan.

"Beberapa pergeseran baik yang kami lakukan nampak sudah mulai muncul, saya senantiasa bilang terhadap mereka bahwa ini kerja kita bersama, bukan cuma saya. Jika banyak yang merasa masih ada kelemahan dan kesalahan di beberapa hal, itu yakni tanggung jawab saya," tulis Luhut memulai ceritanya di akun Instagram @luhut.pandjaitan, Senin (12/7/2021).

Luhut memastikan pemerintah terus berupaya mencari penyelesaian atas permasalahan yang dihadapi. Pasokan oksigen, ketersediaan tempat, tidur hingga obat-obatan menjadi perhatian serius pemerintah.

Dia pun bercerita senantiasa dihubungi Jokowi setiap hari. Ada pesan penting yang kerap ditekankan Jokowi kepada Luhut.

"Bisa saya hitung bahwa setiap harinya 2-3 kali Presiden mengontak saya untuk menanyakan kemajuan dan halangan dari kebijakan PPKM Darurat ini. Di tamat pembicaraannya, Presiden senantiasa menyodorkan terhadap saya selaku bawahannya biar senantiasa memprioritaskan kepentingan rakyat kecil. Jangan hingga ada penduduk yang sulit makan sebab ada pemberlakuan kebijakan ini, begitu kata beliau," kata jenderal purnawirawan Tentara Nasional Indonesia itu.

Pesan dari Jokowi itu dijadikan Luhut selaku tutorial dalam mengerjakan tugas. Selain itu, Luhut berpesan terhadap semua pihak untuk mengevaluasi secara terjadwal di semua jenjang perihal penerapan PPKM darurat ini.

"Saya kira pengendalian pergerakan penduduk ialah aspek kunci kesuksesan kesibukan PPKM Darurat, selain penerapan prokes yang ketat di lapangan serta aksesibiltas vaksin di masyarakat," kata Luhut.

"Mari kita pergunakan energi besar kita ini untuk saling mendukung dan menolong seluruh langkah baik yang sedang diupayakan oleh banyak sekali pihak. Pada karenanya sejarahlah yang hendak mencatat pertolongan para frontliners, relawan dalam menjinjing bangsa ini melawan pandemi global covid. Sejarah pula yang hendak mencatat mereka yang lebih sibuk menjadi belahan dari problem ketimbang berupaya mencari solusi," sambung dia.

Simak video 'Langkah Pemerintah Hadapi Skenario Terburuk Pandemi COVID-19':

[Gambas:Video 20detik]



Rabu, 14 Juli 2021

Jokowi Hubungi Luhut 3 Kali Sehari Tanya Pertumbuhan Ppkm Darurat

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan
Luhut Binsar Pandjaitan (Foto: KEMENKO MARVES)

Jakarta - Sudah lebih dari seminggu Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, diberi kiprah oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadi koordinator PPKM darurat di Jawa dan Bali. Apresiasi pun disampaikan Luhut terhadap semua pihak yang sudah menampilkan dukungan.

"Beberapa pergantian baik yang kami lakukan nampak sudah mulai muncul, saya senantiasa bilang terhadap mereka bahwa ini kerja kita bersama, bukan cuma saya. Jika banyak yang merasa masih ada kelemahan dan kesalahan di beberapa hal, itu yakni tanggung jawab saya," tulis Luhut memulai ceritanya di akun Instagram @luhut.pandjaitan, Senin (12/7/2021).

Luhut memastikan pemerintah terus berupaya mencari penyelesaian atas permasalahan yang dihadapi. Pasokan oksigen, ketersediaan tempat, tidur hingga obat-obatan menjadi perhatian serius pemerintah.

Dia pun bercerita senantiasa dihubungi Jokowi setiap hari. Ada pesan penting yang kerap ditekankan Jokowi kepada Luhut.

"Bisa saya hitung bahwa setiap harinya 2-3 kali Presiden mengontak saya untuk menanyakan pertumbuhan dan halangan dari kebijakan PPKM Darurat ini. Di final pembicaraannya, Presiden senantiasa menyodorkan terhadap saya selaku bawahannya mudah-mudahan senantiasa memprioritaskan kepentingan rakyat kecil. Jangan hingga ada penduduk yang sulit makan sebab ada pemberlakuan kebijakan ini, begitu kata beliau," kata jenderal purnawirawan Tentara Nasional Indonesia itu.

Pesan dari Jokowi itu dijadikan Luhut selaku tutorial dalam mengerjakan tugas. Selain itu, Luhut berpesan terhadap semua pihak untuk mengevaluasi secara bersiklus di semua jenjang tentang penerapan PPKM darurat ini.

"Saya kira pengendalian pergerakan penduduk ialah aspek kunci kesuksesan kegiatan PPKM Darurat, selain penerapan prokes yang ketat di lapangan serta aksesibiltas vaksin di masyarakat," kata Luhut.

"Mari kita pergunakan energi besar kita ini untuk saling mendukung dan menolong seluruh langkah baik yang sedang diupayakan oleh aneka macam pihak. Pada alhasil sejarahlah yang hendak mencatat donasi para frontliners, relawan dalam menjinjing bangsa ini melawan pandemi global covid. Sejarah pula yang hendak mencatat mereka yang lebih sibuk menjadi cuilan dari perkara ketimbang berupaya mencari solusi," sambung dia.

Simak video 'Langkah Pemerintah Hadapi Skenario Terburuk Pandemi COVID-19':

[Gambas:Video 20detik]



6 Fakta Ngeri Lebanon Didera Krisis Ekonomi Bagai Neraka

Krisis Ekonomi di Lebanon (Foto: Pool) Jakarta - Situasi krisis ekonomi di Lebanon kian parah hingga menghasilkan negara ini disebut baga...